Tugas Topik 10_No 17_Dwi Ayuk Wulandari

   KOMUNIKASI DALAM KELAS ONLINE Komunikasi dalam kelas online terjadi antara fasilitator dengan peserta diklat, antar peserta, peserta dengan penyelenggara. Komunikasi tersebut dilakukan secara synchronous maupun asynchronous. Komunikasi dalam kelas online misalnya terjadi di dalam forum diskusi, chat, blog, massage, dan sebagainya.     1.     Forum Diskusi        Dalam forum diskusi akan terjadi komunikasi interaktif antara fasilitator dengan serta, antar fasilitator, antar peserta untuk tukar pengetahuan dan pengalaman atau sebagai sarana unjuk kerja peserta. Dalam forum diskusi terdapat beberapa moodle diantaranya : Forum tunggal sederhana, yaitu fasilitator hanya membuat satu topik untuk didiskusikan oleh setiap peserta. Forum standar, yaitu setiap peserta dapat berpartisipasi baik membuat topik diskusi baru maupun menanggapi topik diskusi yang telah dibuat sebelumnya, baik yang dibuat peserta itu sendiri maupun yang dibuat oleh pes...

SEJARAH DAN KEBUTUHAN E-LEARNING

A.    SEJARAH SINGKAT E-LEARNING

Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali diartikan hanya sebagai e-learning atau Distance Learning. Perkembangan konsep E-learning ini ditandai dengan munculnya situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang komersial(Adawi, 2014). Sejarah E-learning di Indonesia dapat dirunut secara waktu sebagai berikut :

Ø  1990

Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi Elearning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.

Ø  1994

Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

Ø  1997

LMS (Learning Management System) seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar.

Ø  1999

Sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan  perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

Di dunia, E-learning sudah dimulai sekitar tahun 1924 (Terry and Kid , 2010) dan jika dirunut secara waktu maka sebagai berikut :

Ø  1924

Tahun ini dikenal dengan kemunculan The First “Testing Machine”. Profesor Sidney Pressey dari Ohio State University memperkenalkan alat bernama “Automatic Teacher”. Percobaan ini gagal.

Ø  1954

Testing Machine dibuat kembali oleh Profesor BF Skinner dari Harvard University dan berhasil diterapkan di sekolah.

Ø  1960

Kemunculan The Computer Based Training (CBT) dengan Programmed Logic for Automated Teaching Operation atau lebih dikenal dengan sebutan PLATO.’

Ø  1966

Profesor Psikologi Patrick Suppes dan Richard C Atkinson dari Standford University menggunakan Computer Aided Instruction untuk mengajar matematika dan membaca untuk anak-anak Sekolah Dasar.

Ø  1969

Internet mulai dibuat oleh US Departement of Defense.

Ø  1970

Komputer semakin diperbaharui menjadi komputer modern, CBT pun juga ikut bertransformasi.

Ø  1980

Macintosh muncul dan dimulainya perkembangan komunitas online untuk berbagi informasi, permulaan munculnya e-learning modern.

Ø  1990

Kelahiran pertama “Digital Native”, munculnya e-mail menjadi Zaman Baru bagi learning dan e-learning mulai tertata dengan baik.

B.     KEBUTUHAN E-LEARNING

Dalam buku yang berjudul “Elearning Teori dan Aplikasi’ yang ditulis oleh Dian Wahyuningsih, M.Pd dan Rakhmat Makmur” menjelaskan bahwa implementasi elearning berdasarkan kebutuhannya terbagi menjadi tiga yaitu:

1.  Elearning memiliki fungsi sebagai supplement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan sebagai tambahan bagi pembelajaran tatap muka. Dimana metode tatap muka masih mejadi bentuk utama dari kegiatan pembelajaran secara keseluruhan dan elearning digunakan untuk memperkaya pengalaman belajar tersebut. Penggunaan elearning ini terintegrasi didalam pembelajaran tatap muka yang biasanya disebut pembelajaran difasilitasi web.

2.   E-learning berfungsi sebagai complement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan untuk melengkapi pembelajaran tatap muka. Proporsi penggunaan elearning dengan pembelajaran tatap muka dapat seimbang yang biasanya disebut sebagai blended/hybrid learning. karena pada dasarnya baik elearning maupun pembelajaran tatap muka memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, sehingga dapat saling melengkapi.

3.  E- learning berfungsi sebagai replacement pada dimensi bentuk kegiatan belajar apabila digunakan sebagai pengganti pembelajaran tatap muka. Tujuannya untuk membantu peserta didik mengelola kegiatan pembelajaran sehingga dapat menyesuaikan dengan waktu dan aktivitas lainnya yang memiliki prioritas dan sama pentingnya.

Layanan pendidikan konvensional tidak selamanya mencukupi kebutuhan kebutuhan para pembelajar. Ada hal-hal khusus yang menyebabkan seseorang tidak  mampu mengikuti pendidikan secara konvensional, terutama masalah aksesabilitas.  Kekurangan fitur dari pendidikan konvensional ini akhirnya mendapatkan solusi dengan hadirnya model pembelajaran e-learning. Berbagai aspek yang berkaitan dengan kendala akses terhadap layanan pendidikan konvensional adalah :

a.       Keterbatasan kemampuan finansial

Keterbtasan kemampuan finansial tidak hanya sebatas keterbatasan untuk mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional, tetapi juga kebutuhan transportasi maupun biaya lainnya.

b.      Kekurangberuntungan secara fisik

Kondisi fisik juga dapat menjadi kendala untuk melaksanakan kegiatan pendidikan secara konvensional, masalah tersebut misalnya adalah masalah mobilitas.

c.       Keterbatasan waktu untuk mengikuti pendidikan pada pendidikan formal/konvensional.

Pada kegiatan pembelajaran konvensional peserta didik dituntut untuk menghadiri kegiatan pembelajaran. Tetapi  untuk kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan melalui e-learning dapat memberikan peluang bagi para pekerja ataupun pegawai untuk tetap melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai waktu yang memungkinkan.

d.      Kendala dalam pencapaian pangkat puncak bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Para Pegawai Negeri Sipil yang termotivasi untuk meningkatkan kualitas dirinya. Karena untuk mencapai titik itu pekerja harus melakukan pendidikan konvensional secara konvensional, padahal jadwal mereka belajar akan bertabrakan dengan jadwal mengajar. Dengan adanya e-learning akan memudahkan mereka untuk meningkatkan kualitas dirinya dan tetap dapat bekerja seperti biasanya.

e.       Kondisi/ keadaan geografis yang sulit untuk dicapai dan jarak yang jauh.

Penyebaran penduduk yang tidak merata dapat menjebabkan adanya jarak antar penduduk, hal ini menjadikan kendala untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara konvensional.

f.       Keterbatasan sarana trasportasi untuk menjangkau lembaga pendidikan regular/ konvensional.

Ketersediaan transportasi yang kurang memadai juga akan menghambat pelaksanaan kegiatan pembelajaran secara konvensional.

g.      Keterbatasan keuangan negara untuk menyediakan lembaga pendidikan  reguler/konvensional untuk melayani sejumlah besar penduduk yang terpencar pencar dalam jumlah yang relatif kecil.

h.      Menghadapi kondisi geografis yag berbeda-beda setiap daerahnyadiperlukan adanya kebijakan untuk memenuhi kebutuhan belajar masayarakat tanpa harus membangun lembaga konvensional yang lebih tidak efisien jika dilakukan.

i.        Keterbatasan lembaga pendidikan reguler/konvensional dalam memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat.

Dengan keterbatasan jumkah kembaga pendidikan konvensional kebutuhan pendidikan masayarakat pun juga tidak akan merata. Dengan begitu penggunaan e-learning dapat diterapkan untuk memudahkan pemerataan pendidikan masyarakat secara konvensional. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini